Hal yang Perlu diperhatikan bagi Diabetisi saat Latihan Jasmani

1.Memperburuk kadar gula darah penyandang diabetes
Hindari : Latihan jasmani berat, latihan beban dan olahraga kontak
Usahakan : Asupan cairan cukup
2.Exercise-induced hipoglikemia (pada DM tipe 1)
Perhatikan :
◦Selalu monitor Glukosa darah
◦Kurangi dosis insulin sebelum melakukan latihan jasmani
◦Tingkatkan asupan makanan saat melakukan latihan jasmani, bila perlu sebelum dan sesudah latihan jasmani (konsultasikan pada ahli gizi)
◦Bila timbul gejala yang tidak diinginkan, diabetisi harus cepat tanggap, misalnya bila terjadi hippoglikemia (lemas atau pusing) segera hentikan latiham jasmani dan lapor pada pelatih atau pengawas kegiatan.
3.Bila ada gangguan pada kaki
Perhatikan :
◦Kenakan sepatu yabg sesuai (tanyakan di toko tempat membeli)
◦Usahakan agar kaki selalu bersih dan kering
4.Komplikasi penyakit jantung dan pembuluh darah
Perhatikan :
◦Harus mengikuti pemeriksaan medis dan EKG kerja sebelum melakukan latihan jasmani
◦Program latihan jasmani sebaiknya individu namun dilakukan secara berkelompok.
5.Cedera otot dan tulang
Perhatikan :
◦Pilihlah latihan jasmani yang sesuai /tepat
◦Intansitas latihan sebaiknya ditingkatkan ssecara bertahap
◦Pemanasan dan pendinginan harus selalu dilakukan
◦Latihan jasmani berat dan berlebihan harus dihindari

Perencanaan dan Pelaksanaan Kegiatan Latihan Jasmani Bagi Para Diabetesi

Sebelum mengikuti suatu kegiatan latihan jasmani para diabetisi sebaiknya berkonsultasi pada dokter atau dengan perawat edukator. Biasanya akan dilakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu, setelah itu akan disusun program latihan sesuai.
Bagi para Diabetisi yabg penyakinya ringan atau terkendali dengan baik tanpa adanya komplikasi tentu tidak begitu berbahaya untuk melakukan latihan jasmani namun bagi para diabetisi yang berat atau dengan komplikasi, pengawasan yang ketat sangat perlu diperhatikan untuk menghindari hal-hal negatif yang tidak diinginkan. Evaluasi berkala sangat diperlukan untuk melihat kemajuan latihan dan mengetahui manfaat dari latihan jasmani yang telah dilakukan. Hasil yang baik dan memuaskan akan menambah motivasi dari para diabetisi untuk melakukan latihan jasmani.

Manfaat Latihan Jasmani bagi Para Diabetisi

MANFAAT LATIHAN JASMANI BAGI DIABETISI
Sejak berpulih tahun yang lalu diketahui ada 3 cara utama penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus yaitu:
1.Pengaturan makanan
2.Obat-obatan
3.Latihan jasmani
Khususnya latihan jasmani , manfaatnya ditentukan oleh type penyakit DM, tipe 1 atau pada tipe 2

DM Tipe 1
Perbedaan DM tipe 1 dan tipe 2 adalah DM tipe 1 mempunyai kadar insulin darah yang rendah akibat kurang atau tidak adanya produksi insulin oleh pancreas. Pada DM tipe 1 mudah mengalami Hipoglikemia selama dan segera sesudah melakukan latihan jasmani. Meskipun latihan jasmani pada DM tipe 1 tidak begitu mempengaruhi pengaturan kadar gula darah namun beberapa keuntungan lain yang dapat ditimbulkannya seperti dapat mengurangi risiko penyakit jantung, gangguan pembuluh darah dan saraf yang ke semua itu merupakan komplikasi dari DM. Namun perlu diwaspadai pada DM tipe 1 yang disertai dengan kadar insulin yang sangat rendah, latihan jasmani akan menyebabkan control glukosa darah makin jelek.
DM Tipe 2
Latihan jasmani pada DM tipe 2 ini berperan utama dalam pengaturan kadar glukosa darah. Pada tipe ini produksi insulin umumnya tidak terganggu terutama pada awal menyandang penyakit ini. Masalah utama adalah kurangnya respon reseptor insulin terhadap insulin sehingga insulin tidak dapat masuk kedalam sel-sel tubuh kecuali otak, otot yang terkontraksi atau aktif tidak memerlukan insulin untuk memasukkan glukosa kedalam sel karena pada otot yang aktif sensitifitas reseptor insulin meningkat oleh karena itu latihan jasmani pada DM tipe 2 akan menyebabkan berkurangnya kebutuhan insulin eksogen. Keuntungan ini tidak bertahan lama menurut Zinmann, oleh karena itu dibutuhkan latihan jasmani secara berkelanjutab dan teratur selain bermanfaat dalam mengontrol kadar glukosa darah, latihan jasmani pada DM tipe 2 diharapkan dapat menurunkan BB dan ini merupakan salah satu sasaran yang ingin dicapai bahkan sebagian ahli menganggap bahwa manfaat latihan jasmani pada DM tipe 2 akan lebih jelasbila disertai dengan menurunkan BB ataunya berkurangnya lemak tubuh.
Prinsip Latihan Jasmani bagi Para Diabetisi adalah
Prinsipnya sama saja dengan prinsip latihan jasmani pada umumnya, yaitu mengikuti : F, I, D, J, yang dapat dirinci sebagai berikut:
( F ) Frekuensi 3-5 kali perminggu secara teratur
( I ) Intensitas ringan dan sedang(60%-70% Maximum Heart Rate)
Untuk menentukan intensitas latiha terlebih dahulu denyut nadi maksimum (MHR) yaitu 220-Umur lalu ditentukan denyut nadi sasaran (THR=Target Heart rate) . Sebagai contoh pada penyandang DM yang baru mulai melakukan latihan jasmani (pemula) yang berusia 40 tahun diberikan intensitas latihan sebesar 60% berarti
THR = 60% X (220-40 ) = 108
THR adalah denyut nadi yang harus dicapai pada saat seseorang melakukan olahraga (trining zone) dan durasi pencapaian ini diharapkan berlangsung selama minimal 15-20 menit agar memberikan hasil yang diinginkan. Dengan demikian bila menyandang DM ini melakukan latihan jasmani intensitasnya jangan melebihi 60% yaitu denyut nadi pada training zone = zone latihan tidak melebihi 108. Sebagai informasi denyut nadi orang dewasa berkisar 70 – 80 kali permenit. Berat ringannya intensitas latihan ditentukan oleh antara lain tingkat kebugaran, umur dan kondisi diabetisi. Sebaiknya intensitas latihan dikoreksi setiap selang waktu tertentu sesuai perkembangankebugaran dan kondisi penyandang diabetisi.
( D ) Durasi 30-60 menit setiap melakukan latihan jasmani
( J ) Jenis latihan jasmani yang dianjurkan adalah aerobic yang bertujuan untuk meningkatkan stamina seperti jalan, jongging, berenang, senam kelompok/aerobic dan bersepeda.
Pada waktu diabetisi melakukan jasnmani perlu mengikuti tahapan kegiatan yang telah baku digunakan dan dianjurkan oleh para ahli olahraga, yaitu:
1.Pemanasan (warm up)
2.Latihan inti (conditioning)
3.Pendinginan (cool-down)
4.Peregangan (stretching)
Jenis latihan jasmani harus ditentukan secara hati-hati agar tidak membahayakan bagi para Diabetisi. Patut diperhatikan pula agar latihan jasmani yang dipilih adalah latihan jasmani yang disenangi atau memungkinkan untuk dilakukan bagi para Diabetisi.

Perawatan Pasien Stroke Di Rumah

Selama perawatan di rumah, keluarga berperan penting dalam upaya meningkatkan kemampuan pasien untuk mandiri, meningkatkan rasa percaya diri pasien, meminimalkan kecacatan menjadi seringan mungkin, serta mencegah terjadinya serangan stroke berulang.
PRINSIP PERAWATAN
1.Menjaga kesehatan punggung pengasuh atau keluarga
Pada waktu mengangkat pasien, keluarga atau pengasuh harus memperhatikan posisi punggung tetap lurus untuk mencegah sakit punggung di kemudian hari
2.Mencegah terjadinya luka di kulit pasien akibat tekanan
Pasien harus di ubah posisi tidur setiap 2-3 jam baik siang ataupun malam bila pasien belum mampu bergerak sendiri. Daerah yang berisiko terjadinya luka seperti tumit, lutut bokong, siku, punggung, telinga, khususnya daerah badan yang mengalami kelemahan. Dapat juga mengoleskan pelembab atau minyak kelapa pada daerah yang tertekan.
3.Mencegah kekakuan otot dan sendi
Keluarga atau pengasuh dapat melakukan latihan gerak sendi lengan dan tungkai secara pasif dan aktif bila memungkinkan minimal 2 kali sehari
4.Mencegah terjadinya nyeri bahu ( shoulder pain )
Untuk mencegah terjadinya hal ini, hindari menarik lengan atau bahu yang lemah, pada saat mengangkat pasien jangan meletakkan tangan pada ketiak pasien tetapi letakkan keduan tangan penolong pada badan atau punggung pasien.
5.Memulai latihan dengan mengaktifkan batang tubuh atau torso
Yaitu menggerakkan sisi yang lemah dan sisi sehat secara bersamaan seperti menekuk kedua lutut dan mengagkat bokong seperti akan buang air kecil di pot, memindahkan berat badan dari kiri ke kanan atau sebaliknya baik pada saat duduk berdiri atau berjalan.

Beberapa tips cara mencegah seranagan stroke
1.Tips untuk latihan kebugaran jasmani
2.Tips berolah raga secara aman
3.Hidangan sehat dengan menu seimbang
4.Tips diet randah lemak
5.Tips diet rendah garam
6.Tips berhenti merokok
7.Hindari stes

PERTOLONGAN PERTAMA DI RUMAH
Setelah pasien stroke pulang ke rumah, pasien mempunyai risiko mengalami komplikasi atau serangan ulang yang dapat membahayakan jiwa pasien. Sebelum dibawa ke rumah sakit, keluarga dapat melakukan pertolongan pertama untuk mencegah terjadinya perburukan, yaitu:
1.Pasien kejang
a.Jangan tinggalkan pasien sendirian selama pasien kejang
b.Jauhkan barang-barang yang dapat membahayakan fisik pasien
c.Tidurkan pasien terlentang tanpa bantal, miringkan kepala ke satu sisi
d.Jangan mencoba memasukkan sesuatupun ke mulut pasien selama kejang karena dapat menyebabkan gigi patah
e.Berikan obat anti kejang per rectal sesuai anjuran dokter
f.Bila kejang berlanjut hubungi dokter dan segera bawa pasien ke rumah sakit
g.Catat waktu dan lamanya kejang, gerakan anggota badan pada saat pasien kejang, dan catat apakah pasien ngompol dan mengalami penurunan kesadaran setelah kejang
h.Bagi pasien paska stroke yang mengalami kejang berulang diskusikan dengan dokter obat anti kejang yang harus di konsumsi oleh pasien
i.Pada pasien yang mendapatkan terapi anti kejang seperti phenitoin dalam waktu lama, diskusikan pakah perlu dan kapan waktu untuk pemeriksaan kadar penitoin dalam darah

2.Pasien tiba-tiba tidak sadar
a.Baringkan pasien terlentang tanpa bantal, posisi kepala miring ke satu sisi
b.Lepaskan gigi palsu bila ada
c.Jangan memberikan makan atau minum per oral
d.Segera bawa ke rumah sakit terdekat

3.Bila tiba-tiba pasein menunjukkan tanda atau gejala stroke berulang seperti lumpuh separo badan, sulit berkomunikasi, bicara
Cadel, tersedak waktu makan maga bawa segera ke Rumah Sakit terdekat.

Persiapan pasien Stroke di rumah

Sebelum membahas mengenai Hal apa saja yang perlu dipersiapkan keluarga saat ada anggota keluarga dengan stroke pulang ke rumah, kita perlu tahu apa itu Stroke.
Stroke adalah suatu “brain Attack” atau “Serangan Otak”, kejadiannya hampir selalu tiba-tiba dengan gejala yang beragam. Gejala yang paling sering ditemukan adalah keadaan lumpuh separo badan dengan atau tanpa penurunan kesadaran.

Pasien stroke membutuhkan penanganan yang komprehensif, termasuk upaya pemulihan dan rehabilitasi dalam jangka waktu yang tidak sebentar, sehingga peran serta keluarga sangat besar dalam keberhasilan perawatan pasien stroke. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu disiapkan sebelum pasien pulang ke rumah;
1.Tenaga yang merawat di rumah
Sebelum pasien pulang, perawat atau dokter bersama keluarga sebaiknya mendiskusikan mengenai tenaga pengasuh yang akan mendampingi atau merawat pasien selama 24 jam di rumah. Idealnya, perawatn pasien di rumah harus dikoordinir oleh seorang pengelola kasus yang bertugas mengelola perawatan pasien dirumah dan menjadi fasilitator bagi tenaga kesehatan lain sesuai kebutuhan pasien seperti: dokter, terapis fisik, terapi wicara atau ahli gizi. Sehingga program yang telah dilaksanakan di rumah sakit tetap tercapai.

2.Persiapan kamar tidur
Bertujuan agar abggota keluarga yang terserang stroke merasa lebih aman, nyaman, dan lebih mudah melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari. Untuk kamar tidur pasien paska stroke sebaiknya di lantai bawah, ventilasi udara cukup, dan sinar matahari dapat masuk ke kamar tidur pada pagi hari.

3.Tempat tidur
Tempat tidur sebaiknya single bed dan posisi tempat tidur diletakkan di tengah supaya dapat dihampiri dari kedua sisi. Bagi pasien yang mengalami pergerakan, idealnya keluarga menyediakan tempat tidur yang mempunyai engkol 3 sehingga bagian kepala kaki dan body tempat tidr dapat diatur sesuai kebutuhan pasien.

4.Meja di samping tempat tidur
Harus tersedia meja di samping tempat tidur pasien. Pada tahap awal, letakkan meja pada sisi yang sehat dari pasien karena pasien cenderung untuk jatuh ke sis yang lemah, sehingga setiap kali pasien ingin meraih barang di meja, sekaligus akan melatih melatih pasien untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.

5.Kursi dan kursi roda
Saat pasien pulang ke rumah belum mampu berjalan, dianjurkan untuk mempunyai kursi roda. Tujuanya adalah menghindari agar pasien tidak selalu berada di tempat tidur, pasien dapat melakukan sebagian aktifitas sehari harinya dengan duduk dikursi roda sehingga pasien akan merasa lebih sehat bersemangat dan sangat baik untuk kesehatan jantung dan paru.
Kursi untuk pasien paska stroke adalah kursi sebaiknya agak tinggi, sejajar dengan tempat tidur untuk membantu memindahkan pasien dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya, bila perlu tambahkan bantal pada kursi pasien, sebaiknya kursi memiliki sandaran lengan kiri dan kanan.

6.Kamar mandi
Letak kamar mandi mudah dijangkau oleh pasien, sediakan keset yang tidak licin didepan kamar mandi, kloset sebaiknya bberbentuk duduk dan sediakan pegangan tangan pada sisi sehat untuk mempermudah pasien bangun dari kloset, lantai kamar mandi sebaiknya di beri alas yang tidak licin, bila perlu sediakan kursi plastik di kamar mandi, alat perlengkapan mandi di tempatkan pada daerah yang mudah dijangkau dengan satu tangan oleh pasien, semua ini disiapkan untuk menjaga keamanan pasien selama di kamar mandi.

7.Pakaian pasien
Bahan pakaian pasien stroke sebaiknya yang bertekstur halus dan mampu menyerap keringat seperti kaos atau katun, model baju atau celana sebaiknya yang mudah digunakan sehungga pasien stroke dapat mengenakannya secara mandiri.

8.Alat untuk menjaga kebersihan badan
Bila pasien belum mampu mandi di kamar mandi kelurga harus menyiapkan 2 buah kom u ntuk tempat air mandi, 2-4 buah washlap serta set untuk membersihkan gigi mulut.

9.Alat untuk mempertahankan jalan nafas dan oksigenasi
Dipersiapkan bila pasien masih mengalami gangguan pernapasan yaitu tabung oksigen, regulator dan selangnya. Bila slym masih banyak keluarga harus menyiapkan alat nebulizer untuk terapi inhalasi dan alat suction pump untuk menghisap slym.

10.Persiapan alat untuk pasien yang terpasang selang NGT untuk makan dan minum

11.Persiapan alat bila pasien belum mampu mengontrol buang air kecil

Apa itu DOTS

pin tbDOTS (Directly Observed Treatment Short-course)

Merupakan strategi penanggulangan Tuberkulosis di Rumah Sakit melalui pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung. DOTs adalah tempat untuk konsultasi pasien TB.

Penanggulangan Tuberkulosis merupakan program nasional yang harus dilaksanakan di seluruh Unit Pelayanan Kesehatan termasuk Rumah Sakit. Khusus bagi pelayanan pasien tuberkulosis di Rumah Sakit dilakukan dengan strategi DOTS. Hal ini memerlukan pengelolaan yang lebih spesifik, karena dibutuhkan kedisplinan dalam penerapan semua standar prosedur operasional yang ditetapkan, disamping itu perlu adanya koordinasi antar unit pelayanan dalam bentuk jejaring serta penerapan standar diagnosa dan terapi yang benar, dan dukungan yang kuat dari jajaran direksi rumah sakit berupa komitmen dalam pengelolaan penanggulangan TB.

Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demikian menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB.

Upaya penanggulangan TB dimulai pada awal tahun 1990-an WHO dan IUALTD (International Union Against Tb and Lung Diseases) telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS, dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost efective).

WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB sejak tahun 1995. Bank dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. Integrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS, setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun.

Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci:

  1. Komitmen politis
  2. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya
  3. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan.
  4. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu.
  5. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.

Strategi DOTS di atas telah dikembangkan oleh kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) dengan memperluas strategi DOTS sebagai berikut:

  1. Mencapai, mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS
  2. Merespon masalah TB-HIV, MDR-TB dan tantangan lainnya
  3. Berkontribusi dalam penguatan siten kesehatan
  4. Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta
  5. Memberdayakan pasien dan masyarakat
  6. Melaksanakan dan mengembangkan riset.

Tim DOTS di Rumah Sakit

            Adanya pengorganisasian kelompok SMF (staf medis fungsional) berasal dari unit terkait dengan pasien TB dalam wadah fungsional yaitu Tim DOTS. Yang terdiri dari:

  1. Ketua Tim DOTS rumah sakit

Ketua tim adalah seorang dokter spesial paru atau penyakit dalam atau dokter umum yang bersertifikat Pelatihan Pelayanan Tuberkulosis dengan Atrategi DOTS di Rumah Sakit (PPTSDOTS).

  1. Anggota

Terdiri dari:

◦     SMF Paru

◦     SMF Penyakit Dalam

◦     SMF Kesehatan Anak

◦     SMF lainnya bila ada (Bedah, Obgyn, Kulit dan Kelamin, Saraf, dll)

◦     Instalasi Laboratorium (PA, PK, Mikro)

◦     Instalasi Farmasi

◦     Perawat Rawat Inap dan Perawat Rawat Jalan terlatih

◦     Petugas pencatatan dan pelaporan, serta

◦     Petugas PKMRS

Tugas Tim DOTS di Rumah Sakit adalah:

Menjamin terselenggaranya pelayanan TB dengan membentuk unit DOTS di rumah sakit sesuai dengan strategi DOTS termasuk sisitem jejaring internal dan eksternal. Dimana Tim DOTS di rumah sakit melakukan:

  1. Perencanaan terhadap semua kebutuhan bagi terselenggaranya  pelayanan TB di rumah sakit, meliputi diantaranya: tenaga terlatih, pencatatan dan pelaporan.
  2. Pelaksanaan termasuk mengadakan rapat rutin untuk membicarakan semua hal temuan terkait dengan pelaksanaan pelayanan terhadap pasien TB di RS.
  3. Monitoring dan Evaluasi terhadap pelayanan DOTS di RS dan dalam pelaksanaannya berkoordinasi dengan setiap SMF dan unit DOTS.

 

Tatalaksana Pasien TB di DOTS yaitu:

  1. Penemuan tersangka TB

◦     Pasien dengan gejala utama pasien TB paru: batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih dianggap sebagai seorang tersangka pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.

◦     Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB, terutama mereka yang BTA positif dan pada keluarga anak yang menderita TB yang menunjukkan gejala sama, harus diperiksa dahaknya.

2.   Diagnosis TB

◦     Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen  dahak dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu-pagi-sewaktu (SPS).

◦     Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman  TB melalui pemeriksaan dahak :BTA. Pemeriksaan lain seperti foto thoraks, biakan dan uji kepekaan dapat juga sebagai penunjang diagnosis.

3.   Pengobatan TB

Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT (obat anti tuberkulosis).

Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap awal (intensif) dan lanjutan.

◦     Tahap Awal

pada tahap awal ini pasien mendapatkan obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat, bila pengobatan tahap awal ini diberikan secara tepat biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu, sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif dalam 2 bulan.

◦     Tahap Lanjutan

Pasien mendapat obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama (kurang lebih4 -6 bulan), tahap lanjutan ini penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah kekambuhan.

4.   Rujukan

◦     Melakukan rujukan ke UPK lain bagi pasien yang ingin pindah dengan menggunakan formulir rujukan yang ada.

Formulir Pencatatan dan Pelaporan TB  di DOTS

  1. Formulir TB.01 : Kartu Pengobatan Pasien TB
  2. Formulir TB.02 : Kartu Identitas Pasien
  3. Formulir TB.03 : Register TB Kabupaten
  4. Formulir TB.04 : Register Laboratorium TBC
  5. Formulir TB.05 : Formulir Permohonan Laboratorium TBC Untuk Pemeriksaan Dahak
  6. Formulir TB.06 : Daftar Suspek Yang Diperiksa Dahak SPS
  7. Formulir TB.09 : Formulir Rujukan/Pindah pasien TB
  8. Formulir TB.10 : Formulir Hasil Akhir Pengobatan Dari Pasien TB Pindahan

Melalui strategi DOTS ini diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB, memutuskan rantai penularan, serta mencegah MDR-TB, dengan target program penanggulanga TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70 % dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya dan mencapai tujuan MDGs (millenium development goals) pada tahun 2015. (sumber dari buku Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis : Depkes RI, 2011).

Serba Serbi TB

dots

Tuberkulosis dan kejadiannya

 Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberkulosis). Sebagian besar kuman tersebut menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ lain seperti Kelenjar getah bening,tulang, sendi, selaput otak, kulit dan saluran pencernaan yaitu usus.

TB bukan penyakit turunan, bukan disebabkan oleh kutukan dan bukan pula karena guna-guna, hal ini penting untuk diketahui karena masih ada masyarakat kita yang menganggap TB sebagai penyakit turunan.

Situasi TB di dunia semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan, diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberkulosis. Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien Tb baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95 % kasus TB dan 98 % kematian akibat TB didunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Di indonesia sendiri, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat, dimana jumlah pasien TB di indonesia merupakan  negara ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan China dengan jumlah pasien sekitar 10 % dari total jumlah pasien TB didunia.(Sumber Buku KemenKes RI: Pelayanan TB denngan Strategi DOTS Di RS tahun 2010)

Bila berobat tuntas, TB bisa sembuh tuntas, prinsipnya minum obat secara teratur (disiplin obat) dan tuntas. Dan kita harus memutuskan mata rantai TB melalui Edukasi ataupun penyuluhan secara berkesinambungan dari setiap UPK (unit pelayanan kesehatan) terutama dalam hal bagaimana cara pencegahan penularan TB dan pentingnya pemeriksaan kontak serumah karena bila pasien TB sembuh diharapkan tidak menularkan pada anggota keluarga yang lain,  baru pengobatan TB dikatakan berhasil.

Cara penularan

  1.   Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif, yaitu pada waktu batuk atau bersin pasien tanpa menutup mulutnya maka akan menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei), sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
  2.   Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi yang baik dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman TB. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.
  3. Daya penularan seorang pasien TB ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya, maka makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin berisiko untuk menularkan terhadap orang lain.

Risiko penularan dan menjadi sakit TB

  1.   Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB baru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pada TB paru dengan BTA negatif
  2. Infeksi TB dibuktikan dengan perubaha reaksi tuberkulin negatif menjadi positif, pemeriksaan ini biasa disebut dengan mantoux test.
  3. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi sakit TB yaitu rumah dengan sirkulasi udara yang buruk serta pemukiman padat dan kumuh, daya tahan tubuh yang rendah diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).
  4. HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi penyerta (oportunistic) seperti tuberkulosis, maka pasien yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

Mencegah penularan TB

Penting untuk mengetahui bagaimana cara penularan TB yaitu

1. Minumlah obat secara teratur

Pada pengobatan pasien TB perlu ditunjuk PMO (pengawas menelan obat) sebaiknya berasal dari keluarga atau orang terdekat pasien atau dapat juga direkrut dari kader, petugas kesehatan, teman atau tetangga. Tugas PMO adalah mengingatkan pasien TB untuk minum obat teratur sampai tuntas (selama 6-8 bulan), hingga dinyatakan sembuh oleh dokter, selain itu PMO juga mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan, memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala TB untuk segera memeriksakan diri ke UPK, dan sebaiknya PMO ini menemani pasien TB pada saat kontrol.

2. Pasien TB harus menutup mulutnya pada saat batuk atau bersin dengan menggunakan tissu, slampe, bila tidak ada bisa menggunakan lengan baju ujungnya, atau menggunakan masker. Jangan menutup mulut saat batuk atau bersin dengan tangan langsung karena bisa sebagai media berpindahnya kuman.

3. Rumah tinggal harus mempunyai ventilasi udara yang baik agar sirkulasi udara berjalan lancar dan ruang/kamar mendapatkan cahaya matahari, dengan membuka jendela.

4. Tidak membuang dahak di sembarang tempat, tetapi dibuang langsung di kamar mandi yaitu lubang WC atau mempersiapkan tempat khusus dan tertutup untuk dahak.

Mempersiapkan tempat untuk membuang dahak:

  • Siapkan tempat pembuangan dahak: kaleng berisi air sabun/detergent, air bayclin, atau air lisol dicampur dengan air atau pasir.
  • Isi cairan tersebut sebanyak 1/3 dari tinggi kaleng yang telah disiapkan.
  • Buang dahak ketempat kaleng tersebut.
  • Buang isi kaleng bila berisi pasir: kubur dibawah tanah.
  • Bila berisi cairan sabun, detergent, bayclin atau lisol: buang di lubang Wc lalu siram.
  • Bersihkan kaleng dengan sabun setiap hari.
  • Kaleng diusahakan tertutup.

Gaya hidup sehat tanpa TB

Secara langsung TB dapat dihindari dengan:

1. Menjalankan kehidupan pribadi sehat seperti tidak merokok.

2. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makan makanan yang bergizi seimbang dan sehat.

3. Menjalankan hidup sehat di lingkungan yang sehat seperti tinggal di rumah yang cukup mendapatkan sinar matahari dan mempunyai sirkulasi udara yang baik. Agar rumah mendapatkan sinar matahari dan udara yang cukup, bukalah jendela pada pagi hari secara teratur, serta menjemur kasur atau tikar secara teratur agar tidak lembab.

Secara tidak langsung TB dapat dihindari dengan:

1. Berolah raga teratur

2. Cukup istirahat

3. Tidak tidur larut malam

4. Membawa anak usia 5 tahun ke bawah untuk imunisasi BCG.

Pemeriksaan kontak serumah

  1. Mencegah kekambuhan dan reinfeksi
  2. Pada pasien TB dewasa:

◦     Mencari risiko penularan pada orang dewasa maupun anak (minimal pada orang serumah)

◦     Di periksa ke UPK adakah gejala dan tanda tertular TB

◦     Bila pasien BTA positif, ada balita serumah maka balita tersebut diberikan obat pencegahan (profilaksis) selama 6 bulan

Pada pasien TB anak:

◦     Mencari sumber penularan dari orang dewasa

◦     Di periksa ke UPK

◦     Bila ada dipastikan diagnosisnya kemudian diobati.

Situasi TB di dunia semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan, diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberkulosis. Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien Tb baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95 % kasus TB dan 98 % kematian akibat TB didunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Di indonesia sendiri, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat, dimana jumlah pasien TB di indonesia merupakan  negara ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan China dengan jumlah pasien sekitar 10 % dari total jumlah pasien TB didunia.

Bila berobat tuntas, TB bisa sembuh tuntas, prinsipnya minum obat secara teratur (disiplin obat) dan tuntas. Dan kita harus memutuskan mata rantai TB melalui Edukasi ataupun penyuluhan secara berkesinambungan dari setiap UPK (unit pelayanan kesehatan) terutama dalam hal bagaimana cara pencegahan penularan TB dan pentingnya pemeriksaan kontak serumah karena bila pasien TB sembuh diharapkan tidak menularkan pada anggota keluarga yang lain,  baru pengobatan TB dikatakan berhasil.